Mendiskusikan persoalan seksual
selama ini memang Nampak masih sangat tabu. Saking tabunya, bagi orang dewasa
sekalipun ketika menghadapi persoalan seksual enggan membuka ruang pembicaraan mengenai
hal ini, bertanya, mengkonsultasikannya, menyimpannya atau mencari solusi
sendiri. Teknologi yang sangat terbuka dan mudah dijangkau memungkinkan
siapapun mencari solusi atas persoalan seksualitas mereka lewat dunia maya.
Ruang konsultasi lewat dunia maya untuk persoalan seksual memang menjadi lebih
menjaga privacy si penanya.
Untuk acara yang membincang soal
isu yang satu ini, saya berikan apresiasi yang baik untuk acara bertajuk “saxophone”
dari salah satu media TV swasta. Berbagai isu yang dipebincangkan sangatlah
actual dengan dibahas secara ringan dan mudah difahami, perspektif psikologis
dari narasumber juga cukup membuat mata kita terbuka dan memahami mengapa
persoalan tersebut terjadi. Pertanyaan kritis dari host juga menambah kekayaan
informasi dari acara ini khususnya dari cara pandang perempuan.
Sayangnya mata saya sebagai
penonton, seringkali terganggu oleh sang cameraman yang selalu mengarahkan
pandangan penonton menuju satu area-area khusus tertentu dari para narasumber.
Saya bisa memahami karena acara ini ditujukan untuk kelompok dewasa. Tapi
rasanya ada yang kemudian mengaburkan tema yang cukup bagus untuk didiskusikan dan
penting untuk diketahui oleh masyarakat, tidak hanya laki-laki malah lebih
penting untuk perempuan. Tema yang didiskusikan seolah hanyalah menjadi
pelengkap dari potongan-potongan tubuh perempuan yang berani membincang
persoalan seksual secara terbuka dengan menonjolkan keindahan bagian-bagian
tubuh perempuan.
Media dan objektivitas Perempuan
Saya bisa memahami bahwa
media memang masih menjadi alat yang efeketif untuk menunjukkan perspektif para
pemilik modal, dari satu kasus saja kita sudah bisa melihat berada diperspektif
yang mana para pemilik modal ini berdiri. Serta untuk siapa acara ini
diproyeksikan? Dengan melihat 15 menit pertama saja penonton dapat
mendefinisikan kalangan dewasa yang dibidik adalah laki-laki. Sehingga saya
dengan mudah bisa menyimpulkan bahwa seksualitas (yang difahami pemilik media)
sebagai hanya milik laki-laki.
Semua media, rasanya masih memiliki karakter yang sama mengenai hal
ini, perspektif yang digunakan masih menampilkan gambaran bahwa perempuan
adalah objek segala jenis pemuasan laki-laki, terutama pemuasan seksual. Lihat
saja dari ciri khas iklan-iklan yang ada dan mereka sajikan untuk kita, semua kategori
masih menampilkan citra bahwa kecantikan perempuan ujungnya adalah untuk
dipersembahkan kepada laki-laki. Kepuasan muncul bukan hanya pada laki-laki
yang misalnya senang membelai kulit perempuan yang halus mulus, tetapi perempuan
pun merasa dihargai, diterima dan dibutuhkan oleh laki-laki karena berhasil
membuat laki-laki bahagia atas kulit halus putih mulusnya perempuan.
Seksualitas memang masih
dihadapkan pada realitas cara pandang dan perspektif laki-laki. Dalam banyak
hal perempuan ditempatkan sebagai objek seks yang pasif dan objek pelengkap
penderita. Padahal perempuan sebagai manusia sama halnya dengan laki-laki
secara fitrah mereka pun dibekali alat-alat, rasa dan potensi untuk menikmati
seksualitasnya. Sayangnyka tidak banyak ruang yang diberikan bagi perempuan
untuk mengekpresikan seksualitas mereka. Seolah-olah kehadiran perempuan
hanyalah untuk melayani hasrat seksualitasnya laki-laki semata.
Oleh karenanya, sebuah program
yang sebenarnya mengandung pendidikan seksualitas yang positif pun rasanya
masih menganggap bahwa acara mereka hanya dikonsumsi khusus untuk laki-laki
dewasa. Oleh karenanya tidak lengkap dan belum dikatakan sukses sepertinya bila
acara ini disajikan tanpa bumbu-bumbu yang kira-kira bisa membawa penonton
(yang laki-laki) meningkat hasratnya.
Lalu dimana penonton perempuan?
Sepertinya juga tidak memiliki tempat yang memadai sekedar untuk mendapatkan
informasi yang positif dan mencerahkan soal seksualitas. Ayo lah kita bangun
perspektif yang berpihak. Bila sebuah acara diproyeksikan untuk semua jenis
kelamin, saya bisa menjamin cara pengambilan gambar sang cameramen mungkin
tidak sedekat dan sedetil itu menangkap tubuh perempuan.
Walaupun saya harus masih
menerima kenyataan, dalam masyarakat yang patriarkhi, sepanjang hidup perempuan
memang seolah harus merelakan diri dan tubuhnya ditentukan oleh orang-orang
disekitarnya. Sejak lahir ia bahkan ia telah diikat oleh fatwa untuk menurunkan
hasrat seksualnya yang “katanya” dearajatnya 9 lewat sunat perempuan.
Menginjak usia lebih besar banyak
anak perempuan tidak lagi mendapatkan otoritas dan hak atas tubuhnya. Terlebih
dalam banyak tradisi seringkali orang tua menganggap perempuan sebagai asset
dan harta miliknya. Tidak mengherankan jika banyak orang tua merasa memiliki
otoritas yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan dari tubuh anak perempuannya.
Kasus pernikahan anak, penjualan anak adalah bagian dari realitas yang masih
tinggi di Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini banyak kasus perkosaan terhadap
yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Rumah sebagai tempat aman bagi
perempuan dan anak ternyata tidaklah selalu benar.Kasus pernikahan Aceng
rasanya juga bisa dilihat bagaimana anak perempuan bisa dibeli dengan mudah dan
kemudian dicampakkan dengan hanya lewat pesan pendek.
Perjuangan masih panjang ya untuk
memperjuangkan tayangan yang berpihak pada perempuan, saya masih yakin bahwa
pendidikan mengenai seksualitas memang penting untuk disampaikan secara terbuka
dan dikemas lebih intelek agar tidak lagi dianggap tabu. Namun bila disajikan
dengan cara menjadikan perempuan sebagai objek rasanya juga tidak begitu adil
karena tetap menampilkan perempuan hanya dari tubuh dan kemolekannya saja,
menapikan kualitas intelektualitas dan kualitas yang dibicarakan oleh si
perempuan.
** Tulisan ini juga dapat di lihat di http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/22/membincang-seksualitas-perempuan-objek-537179.html
